Ia mengatakan gempa tersebut seharusnya tidak menyebabkan tsunami. Belum lagi mengingat pergerakan mendatar tidak secara efektif bisa mengakibatkan tsunami.
Nugroho kemudian mencontohkan gempa di Wharton pada tahun 2012 yang berkekuatan 8,5 SR tapi hanya menghasilkan tsunami setinggi 30 cm.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari 800 meter ke 20 meter sangat terjal, bisa dibayangkan massa air dari tempat yang dalam menjadi dangkal dipindahkan dengan volume yang sama maka kecepatan sangat tinggi dan gelombang sangat tinggi," tutur Nugroho.
Kedua Nugroho mengatakan bentuk teluk Palu terlihat seperti kanal tertutup sehingga bisa mengamplifikasi kekuatan massa air laut yang datang.
'Para ahli setuju bentuk teluk Palu seperti kanal tertutup. Kalau dilihat di peta, teluk Palu menjorok ke dalam. Seperti saluran air selokan yang ujungya satu terbuka dan satu tertutup. Kalau digelontorkan air dari ujung yang terbuka, di ujung yang tertutupnya pasti muncrat," ucapnya.
"Adanya gerakan vertikal komponen yang bisa jadi mengganggu kolom air diatasnya. Sehingga menghasilkan "bibit" gelombang tsunami. Kemudian gelombang ini mengalami amplifikasi terutama di bagian laut yang mengarah ke teluk Palu," kata Nugroho.
Oleh karena itu Nugroho menyebutkan gempa Palu ini unik dan penting bagi bahan studi untuk memperbaiki sistem peringatan dini tsunami.
"Penting karena peristiwa ini harus digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam menyempurnakan sistem peringatan dini kita agar mempertimbangkan sesar mendatar sebagai sumber tsunami," tutur Nugroho. (jnp/evn)