Penelitian ini sempat merebak lantaran ada kabar beredar yang mengatakan gempa bumi bisa terjadi pada tahun 2010-an. Segmen Saluki yang berada di dekat sesar Palu Karo menjadi penyebab gempa dan tsunami di Sulteng.
"Saya bilangnya di situ ada sejarah gempa. Secara garis gempa Palu-Koro itu segmen-segmennya memiliki potensi menghasilkan gempa bumi sebesar itu dan kita belum bisa memperkirakan waktu secara rinci," kata Mudrik di kantor LIPI, Jakarta, Selasa (2/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sesar aktif itu di mana lokasi itu ada sumber pasti gempa buminya. Dan dia akan berulang dilokasi itu juga. Jadi dia (sumber gempa) tidak akan lari kemana-mana di jalur itu saja," tutur Mudrik.
"Saya perlu kawan-kawan geodesi untuk pasang GPS untuk mengetahui kecepatan geser. Lalu saya butuh carbon detect," kata Mudrik.
"Saya bilang itu prediksi yang masih kasar, jangan terlalu percaya. Saya percaya itu 30% saya bilang secara yakin. Karena namanya kita menghitung 'ulang tahun' gempa paling tidak kita ada jeda tiga. Saat ini kita baru dapat satu jeda, dan itu masih kasar juga ini gempa benar atau tidak, kita masih belum yakin," kata Mudrik
Pasalnya dalam studinya, ia hanya meneliti satu sesar. Sementara itu di Sulawesi ada empat sesar Saddang, Sesar Gorontalo, Sesar Matano, dan Sesar Palu-Koro.
"Kalau mempelajari sesar aktif itu tidak bisa cuma satu saja. Kita harus juga bisa tahu karakternya supaya bisa menceritakan gempa itu muncul dimana. Kita juga harus tahu karakteristik dan kebiasaan sesar ini menghasilkan gempa bumi," kata Mudrik. (jnp/evn)