Latar belakang pertama adalah tentang pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat saban tahun. Catatan Kementerian ESDM rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor 2006 sampai 2016 di dalam negeri sebesar 11,5 persen per tahun.
"Pertumbuhan kendaraan, membanggakan sekaligus mengkhawatiran. Pertumbuhan, menurut BPS (Badan Pusat Statistik), paling tidak naik 11,5 persen per tahun, sementara pertumbuhan ekonomi 5 persen," jelas Rida Mulyana melalu materi presentasinya dalam Forum Diskusi Kendaraan Listrik yang diadakan detikcom dan CNNIndonesia.com di 100 Eatery and Bar, Hotel Century, Jakarta, Kamis (4/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk memenuhi BBM itu membutuhkan upaya yang luar biasa, itu latar belakang mengapa kami semangat mendorong kendaraan listrik terwujud di Indonesia," jelas Rida.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Energi yang digunakan di Indonesia saat ini, sebut Rida, masih mengandalkan bahan bakar fosil yang berhubungan dengan polusi dari emisi gas buang. Ketergantungan pada bahan bakar fosil dinilai tidak baik, sebab bila ketersediaannya terbatas sementara permintaan meningkat maka bakal memberi tekanan energi pada Indonesia.
"Program percepatan kendaraan listrik meningkatkan ketahanan energi nasional. Listrik menuju ketahananan energi nasional," tegas Rida menjelaskan latar belakang keempat.
Latar belakang kelima terkait harga kendaraan berteknologi listrik yang mahal. Kementerian ESDM menjelaskan butuh insentif pembebasan biaya masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) buat kendaraan listrik agar bisa diterima masyarakat. (fea/mik)