Yosef mengatakan ketika gempa, kaca akan pecah dan serpihannya akan menghujani orang-orang yang berada di bawahnya. Tentu hujan kaca ini akan memakan korban luka hingga jiwa.
"Pernahkah terpikir kaca gedung pencakar langit di Jakarta bisa pecah dan jatuh sebagai hujan kaca ketika terjadi gempa bumi," tutur Yosef di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (11/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yosef kemudian mengingatkan sesungguhnya ada potensi gempa di Jakarta. Pasalnya ada sesar aktif yang membentang sekitar 25 kilometer di selatan Jakarta. Sesar ini adalah kepanjangan dari sesar Baribis.
"Saya mengingatkan ada patahan di selatan Jakarta. Itu potensial gempa, lalu orang lupa atas potensi ini. Kita harus ingat ada potensi gempa dari patahan di selatan Jakarta," tutur Yosef.
Dalam jurnal Koulali menyebutkan peneliti Ngoc Nguyen menemukan adanya gempa besar di Jakarta yang disebabkan oleh Sesar Baribis pada tahun 1780 dan 1834.
Pada tahun 1780, gempa tercatat berkekuatan 8,5 skala Richter (SR). Sedangkan pada tahun 1834 gempa berkekuatan 7-7,7 SR kembali mengguncang Jakarta. Gempa pada tahun 1780 disebut sebagai gempa terkuat yang pernah menggungcang daerah Jawa Barat. (jnp/evn)