Mengutip akun media sosial Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sundog atau Mock Sun atau Phantom Sun adalah fenomena alamiah yang biasa terjadi. Namun, itu diakui memang jarang terjadi di Indonesia.
Sundog adalah fenomena optis yang menampakkan titik-titik terang di langit, dan seringnya pada cincin halo di sekeliling matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umumnya sundog sendiri tercipta dari kristal es piringan yang berbentuk segi enam pada awan sirus yang tinggi dan dingin, atau selama musim dingin yang amat dingin. Selanjutnya, oleh kristal es yang disebut debu intan tertiup ke udara.
Seiring Matahari yang semakin meninggi, cahaya yang melewati kristal-kristal tersebut semakin dicondongkan dari bidang datar. Sudut deviasi mereka bertambah dan sundog semakin menjauhi Matahari.
"Sehingga selalu tampak di ketinggian yang sama dengan Matahari," pungkas informasi dari akun BMKG tersebut.
Sementara itu, mengutip dari situs Sky and Telescope, Rick Fienberg yang merupakan bagian dari Masyarakat Astronomi Amerika mengatakan penamaan sundog pada fenomena itu sudah terjadi sejak awal 1600 silam. Sehingga, sambungnya, tak diketahui pasti mengapa fenomena itu dinamai sundog.
"Ada sejumlah buku dan situs tentang fenomena atmosfer, namun tak ada satupun sejauh yang sudah saya periksa kembali mengatakan sesuatu mengapa fenomena parhelia ini dinamakan sundogs," tulisnya di situs tersebut.
[Gambas:Instagram] (kid)