Dari 230 hoaks tersebut, 135 diantaranya merupakan hoaks dengan konten politik. Anita mengatakan sepanjang September terdapat 52 hoaks politik dengan 36 hoaks yang menyerang pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan pemerintah. Sedangkan 16 hoaks lainnya menyerang kubu Prabowo-Sandiaga Uno.
"Periode Juli hingga September, kami melihat pada Juli total ada 65 hoaks yang, di antaranya 46 persen hoaks politik. Agustus itu 70 hoaks, 63 persen itu politik. September ada 86 hoaks, 59 persen berupa hoaks politik," kata Anita di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Selasa, (16/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anita mengatakan berita hoaks biasa mengalami peningkatan terutama menjelang tahun politik atau mengenai isu SARA. Misalnya, Anita mengatakan tren politik meningkat di saat ada isu Rohingya atau Pilgub DKI Jakarta 2017 hingga dugaan penistaan agama Ahok.
Lihat juga:Hoaks Banyak Tersebar Lewat Facebook |
Anita mengatakan hoaks ini memecah bangsa, saat ini bangsa terpecah menjadi dua kubu dengan istilah cebong dan kampret. Menurut Anita akibat hoaks tidak ada lagi rasa kepercayaan antara dua kubu.
"Kita tahu empat tahun terakhir hoaks mencerai-beraikan kita. Nilai yang bertentangan dengan nilai luhur meluas, kebencian, kekerasan, dan ketidaksukaan. Ada yang turun juga di masyarakat karena rasa percaya satu sama lain. Rasa keterbukaan dan kejujuran menghilang," kata Anita. (jnp/age)