Dengan ketiadaan edukasi digital terkait berita hoaks, anak-anak akan terkena penetrasi berita hoaks yang mereka dapat dari orang tua dan guru. Sosok yang dijadikan panutan memberikan berita hoaks, tentu anak-anak tidak punya kekuatan untuk melawan penetrasi.
"Sekarang yang bahaya lagi kalau hoaks dipercaya seorang guru atau pendidik itu akan dibawa ke anak didiknya. Makanya hoaks hari ini efeknya ke generasi muda. 2030 itu panen demografi. Kalau anak termakan hoaks karena pendidik bisa dibayangkan bagaimana Indonesia di masa depan," tutur Nukman di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Selasa (16/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki masa Pilpres dan Pileg, Nukman mengatakan intensitas penyebaran berita hoaks akan semakin masif. Oleh karena itu ia menekankan betapa pentingnya edukasi digital kepada orang tua atau guru agar tidak sembarangan membagikan berita hoaks ke anak-anak.
"Politik merusak media sosial. Twitter dan Facebook itu dulu lucu. Begitu masuk Prabowo, Jokowi, Ahok sudah mulai beda. Tiba-tiba tegang karena sudah mulai muncul konten yang mudah membakar. Hoaks itu pupuk rasa kebencian," kata Nukman. (jnp/age)