Rencana penutupan pabrik tersebut menimbulkan reaksi negatif para pejabat Prancis hingga karyawan pabrik yang akan pensiun dini.
Pertemuan antara perwakilan serikat pekerja dan sejumlah pejabat Prancis akhirnya digelar pada Senin (15/10), untuk mendengar keluhan para karyawan. Namun pertemuan ini berujung pada terbakarnya emosi Menteri Ekonomi Bruno Le Maire.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ford mengumumkan pada Februari 2018 bahwa mereka akan menghentikan aktivitas di pabrik Blanquefort, yang telah memproduksi girboks sejak 1972.
Belakangan dikabarkan bahwa di balik penutupan pabrik tersebut ada unsur politis. Beredar kabar bahwa pabrik ini sendiri telah menjadi perdebatan antara serikat dagang Prancis dan perusahaan multinasional Amerika yang sering digambarkan di Prancis sebagai kapitalis.
Wali Kota Bordeaux, Alain Juppe yang mencoba mengonfirmasi ke pihak Ford terkait informasi ini akhirnya mendapat jawaban.
"Saya berbicara dengan chairman Ford Jumat lalu melalui saluran telepon dan ia mengatakan kepada saya bahwa antara perpindahan kepemilikan pabrik ke Punch dan penutupan pabrik, Ford lebih suka menutup pabrik," jelas Le Maire.
"Saya benar-benar tidak setuju dengan pilihan ini," tambahnya. Ia berharap Ford bisa menyelamatkan pabrik dan para karyawannya. (mik)