Seorang sumber yang identitasnya dirahasiakan kepada Wall Street Journal mengatakan Facebook menengarai penyebar spam sebagai dalangnya dan tak ada kaitannya dengan perbuatan suatu bangsa.
Pelaku ditengarai mencuri data untuk mengumpulkan uang melalui iklan dan tak berafiliasi dengan negara tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya pada Jumat (12/10) lalu, Facebook mengungkap adaya pencurian token digital ke 30 juta akun. Peretas diketahui berhasil mengendalikan 400 ribu akun. Token digunakan untuk masuk ke akun Facebook tanpa perlu mengetikkan kata sandi.
Pada 25 September lalu, Facebook menarik kesimpulan bahwa lonjakan aktivitas tersebut tak lain adalah upaya peretasan dan mengambil alih sejumlah akun. Perusahaan menyatakan komitmen untuk memperbaiki kerentanan tersebut.
Dari 30 juta data yang berhasil diakses, Facebook mencatat 14 juta diantaranya berhasil mengakses informasi alamat tempat tinggal, status hubungan, agama, hingga history pencarian pada perangkat yang dipakai.
Sejumlah informasi personal seperti username, gender, bahasa yang digunakan, status hubungan, agama, kampung halaman, kota kelahiran, tanggal lahir, perangkat yang digunakan untuk mengakses Facebook, latar belakang pendidikan, pekerjaan, 10 tempat terakhir yang dikunjungi berdasarkan cek in, situs, orang atau laman yang diikuti, dan 15 pencarian terbaru disebut juga berhasil diakses oleh peretas. (jef/evn)