Menurut Subhan, tempurung kepala memiliki karbon aktif yang bisa digunakan sebagai aditif dalam proses pembuatan elektroda.
"Bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktifitas listrik baik ionik maupun elektronik," jelas Subhan dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
skala industri perlu dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan aplikasinya dalam proses fabrikasi baterai lithium," imbuhnya.
Di sisi lain, Agung Imaduddin, peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI juga mengembangkan material superkonduktor untuk memenuhi asupan listrik di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, konsumsi listrik Indonesia pada 2017 mencapai 1.012 kilowatt per hour (KWH)/ kapita, atau naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya.
Agung menjelaskan sejak 2010 lalu permintaan superkonduktor di pasar global meningkat signifikan, khususnya superkonduktor tipe High Temperature Superconductors (HTS). Padahal, bahan baku HTS sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai bahan pendukung teknologi maju.
"LIPI telah melakukan penelitian mengenai superkonduktor sejak tahun 2006 dengan menggunakan bahan Nb3Sn, Bi-Sr-Ca-Cu-O, MgB2, dan FeSeTe. Hasilnya berupa purwarupa kawat superkonduktor," ungkapnya.
Untuk mengembangkan ke skala industri, Agung mengakui jika pihaknya butuh kerja sama untuk membuat kawat superkonduktor dengan skala lebih panjang untuk kebutuhan trafo dan kabel transmisi listrik tegangan tinggi. (evn)