Dilansir dari CNN, SACOM menuding bahwa siswa berusia 16 hingga 19 tahun dipaksa oleh sekolah mereka untuk bekerja di pabrik melalui program wajib magang.
Program ini tidak ada hubungannya dengan jurusan studi para siswa. SACOM mengatakan para siswa ini sering bekerja lembur secara berlebihan. Bahkan dalam beberapa kasus, siswa dikenakan shift malam.
Lihat juga:Qualcomm Sebut Apple Utang Rp106 Triliun |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tudingan ini membuat Apple harus memantau rantai pasokan di seluruh dunia. Dalam sebuah pernyataan Apple mengatakan telah mengaudit pabrik Chongqing sebanyak tiga kali antara Maret dan Juni. Mereka tidak menemukan ada pekerja yang masih berstatus siswa tersebut.
Lihat juga:Pre-order iPhone Xr Kurang Diminati |
Seorang remaja berusia 18 tahun mengatakan mereka bekerja pada lini produksi Apple Watch yang memiliki target harian 1.200 unit.
"Kami seperti robot di jalur produksi. Kami mengulangi prosedur yang sama untuk ratusan dan ribuan kali setiap hari," kata siswa berdasarkan laporan SACOM. (jnp/age)