"Berdasarkan survei pengguna mobile tiga kali lipat kesempatan menjadi korban phishing attack daripada pengguna dekstop. Itu bisa SMS atau telepon palsu yang mengaku dari Telkomsel," jelas VP ICT Security Management Telkomsel Yohannes Glen saat ditemui di kantor Telkomsel, Jakarta Selatan, Selasa (6/11).
Serangan phising adalah penipuan lewat perangkat elektronik yang dilakukan dengan menyamar sebagai entitas yang dipercaya, entah sebagai perusahaan telekomunikasi, bank, atau lainnya. Hal ini berkaitan seringnya masyarakat berinteraksi dengan ponsel mereka dalam satu hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Polisi Tahan 13 Pelaku Penipuan SMS |
Masih berdasarkan riset itu, masyarakat juga malas mengamankan ponselnya menggunakan anti malware. Padahal menurut Glen, 15 persen masyarakat menyimpan data penting di ponsel.
Kedua, berdasarkan riset dua dari tiga pengguna ponsel tidak pernah mengunduh aplikasi anti-virus atau anti-malware.
Hal ini diperparah dengan ketiadaan aplikasi keamanan untuk mengamankan ponsel dari serangan peretas.
"Dari 73 persen yang sadar 66 persen di antaranya masih menyambung ke Wifi. Karena gratis dan tidak perlu beli data. Artinya eksposur semakin besar. Banyak data penting tapi tidak melindungi ponsel," tutur Glen. (jnp/eks)