"Para teroris telah menggunakan banyak sekali akun. Sebanyak 1,2 juta akun Twitter yang sudah dibekukan selama beberapa tahun belakangan karena diduga berhubungan dengan organisasi teroris," ujar Dutton dalam konferensi pers 'Sub-Regional Meeting on Countering Terrorism' yang digelar di Hotel Fairmont, di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).
Menurutnya aplikasi media sosial semakin rentan digunakan kelompok teroris untuk menyebarkan doktrinnya, merekrut anggota, hingga merencanakan penyerangan.
"Berkembangnya teknologi media sosial biasanya digunakan untuk nilai positif seperti ecommerce, ternyata terorisme juga gunakan itu (teknologi medsos) untuk brainwash hingga sharing informasi merakit bom. Itu semua menggunakan medsos," ujar Wiranto.
Wiranto juga menyebut bahwa peredaran hoaks ini tak lepas dari pertarungan para elite politik memanas di Indonesia selama tiga tahun belakangan ini, terutama menjelang tahun politik pada 2019 mendatang.Tanggung jawab hoaks
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai negara demokrasi, mereka menyambut penggunaan sosial media untuk masyarakat tetapi harus dibarengi dengan obligasi khusus berkenaan dengan hukum untuk terorisme dan kejahatan.
"Sudah ada kesepakatan/statement bersama bahwa working group akan mengembangkan apa yang bisa kita lakukan secara efektif, aksi bersama untuk menanggulangi bagaimana penggunaan medsos untuk kejahatan bisa kita redam," kata Wiranto.
Sementara itu, Twitter disebut Wiranto telah menawarkan diri untuk membantu pemerintah tak hanya untuk menangkal aksi terorisme tetapi juga hate speech dan hoaks.
Selain Twitter, Wiranto mengatakan bahwa kelompok kerja yang dibentuk dari pertemuan ini akan bekerjasama juga dengan Facebook dan perusahaan internet lainnya. Kerjasama dalam kelompok kerja itu dianggap penting karena teroris tak mengenal batas negara.
Wiranto juga mengatakan pemerintah akan menggandengTwitter,Facebook, dan perusahaan teknologinya untuk memberantas terorisme. Sebab, pemerintah tidak bisa kerja sama sendiri tanpa menggandeng perusahaan-perusahaan teknologi untuk ikut membantu memberangus penyebaran beritaberkonten negatif darihoaks, ujaran kebencian, hingga yang berbau terorisme."Working group (kelompok kerja) itu output-nya tadi akan membangun satu kehidupan medsos yang memberantas kejahatan," tutup Wiranto. (rds/kst/age)