Diperkirakan, kesalahan data sensor aliran udara (angle-of-attack [AOA] indicator system) kemungkinan berkontribusi pada jatuhnya pesawat itu pekan lalu.
Berdasarkan petunjuk sementara, kesalahan software atau kesalahan sistem yang mengukur berapa tinggi hidung pesawat harus diarahkan berkontribusi pada jatuhnya pesawat tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, diberitakan bahwa pilot Lion Air dengan jenis pesawat 737 Max 8 ini kesulitan mengendalikan pesawat ketika komputernya memerintahkan untuk menukik tajam pada saat-saat terakhir penerbangannya. Tidak ada masalah cuaca ketika pesawat ini lepas landas di Jakarta.
Berdasarkan data dari FlighRadar24, setelah lepas landas pesawat ada di ketinggian 5.500 kaki lantas turun ke 4.625 kaki, dan terus bergerak naik turun di ketinggian tersebut selama 10 menit sebelum akhirnya jatuh.
Meski demikian, direktur Boing tidak meminta operator untuk melakukan inspeksi atau tindakan lainnya. Mereka hanya menekankan agar pilot mengikuti prosedur pada manual penerbangan ketika mengalami keanehan data. Mengikuti protokol ini harus menjadi rutinitas wajib untuk pilot.
Meski mungkin hal ini akan sulit dilakukan ditengah-tengah kepanikan ketika peralatan mengalami malfungsi dan alarm berbunyi, seperti dilaporkan Bloomberg. Mengutip The Wall Street Journal, hal serupa juga diinstruksikan oleh regulator penerbangan Amerika Serikat
(eks/eks)