Model ini dibuat setelah mesin dilatih terhadap berbagai bentuk file executeable yang sudah dimasukkan dengan indikator-indikator file malware dan tidak.
"Machine learning itukan bekerja berdasarkan algoritma, sehingga pola apa saja yang dikira merupakan serangan malware, dia akan langsung mengidentifikasinya," jelas konsultan dari ESET Indonesia Yudhi Kukuh dalam konferensi pers Tantangan Keamanan Siber Di Industri 4.0, Hotel Crown Plaza, Jakarta (7/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, serangan malware butuh usaha yang lebih sedikit. Sebab, pada dasarnya malware merupakan sebuah program yang pendek. Sehingga penyerang biasanya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat malware.
Lihat juga:Waspada Malware dalam Aplikasi Android |
Keempat, pengguna biasanya tidak sadar kalau perangkatnya sudah terkena malware. Kelima, serangan tidak hanya menyasar satu target, tapi menyebar. Pembuat malware juga mengambil keuntungan dari setiap target yang terkena serangan. (jef/eks)