Penelitian gabungan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), Badan Arkeologi Makassar, Balai Peninggalan Cagar Budaya Makassar, Wollongong University, dan Griffith University menemukan situs dengan karya seni yang diperkirakan berusia 39 ribu tahun.
Kepala Puslit Arkenas, I Made Geria mengatakan tim peneliti menemukan 12 cap tangan (hand stensil) dengan ujung runcing dan dua hewan figuratif dari sembilan gua di pegunungan karst maros. Selain berusia tua, temuan lukisan ini juga menggambarkan keberadaan manusia modern awal yang menghuni daratan Sulawesi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Arkenas/Kinez Riza |
Kendati demikian, teka-teki mengenai siapa manusia yang membuat lukisan-lukisan tersebut masih menjadi tanda tanya bagi para peneliti. Hal tersebut lantaran dari proses penggalian hingga kedalaman dua meter hanya mendapatkan alat batu.
Lukisan batu di Kalimantan Timur
Selain di Sulawesi Selatan, pekan ini tim peneliti gabungan juga baru mengumumkan publikasi mengenai temuan aneka lukisan batu dengan pola tapir, daun, tangan, hingga hewan abstrak lainnya. Tim peneliti gabungan dari Arkenas, Insititut Teknologi Bandung (ITB), dan Griffith University, Australia ini memperkirakan lukisan batu tersebut berusia minimal 40 ribu tahun-- lebih tua dari lukisan batu yang pernah ditemukan sebelumnya.
Selain berusia tua, lukisan tersebut juga menunjukkan kebudayaan manusia di zaman yang lebih tua. Gambar tersebut juga menjadi bukti perkembangan inovasi lukisan yang berkembang dari tahun ke tahun.
Dua lukisan tertua yang ditemukan di wilayah Indonesia ini memberikan implikasi sangat besar terhadap pemahaman tentang evolusi manusia, terutama kaitannya dengan pola perilaku manusia di masa lalu. Besar kemungkinan seni melukis di atas batuan telah muncul dan berkembang ketika manusia di era modern awal menyebar dari Afrika ke Eropa dan Asia Tenggara. (kst/evn)
Foto: Arkenas/Kinez Riza