Potensi Temuan Lukisan Gua Tua di Indonesia Terganjal Biaya

CNN Indonesia | Sabtu, 10/11/2018 10:29 WIB
Potensi Temuan Lukisan Gua Tua di Indonesia Terganjal Biaya Ilustrasi. (Arkenas/Kinez Riza)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arkeolog Universitas Indonesia Cecep Eka Permana mengungkap bahwa masih ada ribuan situs di Indonesia yang berpotensi memuat gambar-gambar cadas dengan usia pembuatan lebih tua dibanding yang baru ditemukan di Kalimantan Timur. Situs-situs tersebut sayangnya, belum bisa dieksplorasi karena mahalnya biaya riset.

"Situs lukisan di Indonesia banyak sekali, bisa ribuan situs, di Sulsel, Sultra, Kaltim, Kalbar, Maluku, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, terakhir di Sulsel, Jambi, dan Sumbar," ujar Cecep saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Jumat (9/11) melalui sambungan telepon.

"Potensi lebih tua juga banyak, masalahnya objek yang lebih tua umumnya sudah rusak sehingga untuk sampel usia terbatas. Belum lagi sarana-prasarana riset dan dana yang sangat terbatas. Temuan kronologi lukisan di Sulsel dan Kaltim tertua sekarang berkat kerjasama dengan pihak luar negeri," imbuhnya.
Dia menyayangkan bahwa saat ini penelitian di negeri sendiri masih mendompleng nama peneliti asing. Nama pertama/utama peneliti bukan nama dari orang Indonesia.

Dia berharap pemerintah memiliki kepedulian lebih tinggi mengenai pengetahuan ini karena menurutnya sumber daya manusia di dalam negeri sudah mampu melakukan penelitian sendiri.


"Jika pemerintah concern tentang riset ilmiah ini, tentunya dapat dibiayai. Dari segi pengetahuan dan ketrampilan kita mampu. Mestinya kekayaan khasanah bangsa sendiri diteliti dan dipublikasikan sendiri oleh empunya, sayang sekali. Semoga ke depan kita bisa lakukan sendiri," tutur Cecep.

Sementara itu selama ini, ribuan situs lukisan itu ditemukan dengan berbagai cara mulai dari laporan peneliti atau penjelajah masa lalu. Peneliti juga menerima laporan masyarakat dan kegiatan ilmiah.
Sebelumnya, Ketua Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) I Made Geria, bahwa pihaknya memang membutuhkan bantuan pemerintah untuk melanjutkan penelitian. Namun, dia tidak menyebutkan secara gamblang pihaknya memerlukan biaya penelitian.

"Makanya saya tekankan dalam kerjasama ini kan harus dia [pemerintah] mengadakan eskavasi supaya ditemukan manusia pendukung [pelukis gambar]," kata Made.

Made sempat mengatakan bahwa karya-karya di atas dinding cadas pegunungan karst di tanah air adalah aset kekayaan peradaban yang harus difasilitasi sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat, tak hanya bagi pengembangan penelitian, tetapi juga meningkatkan kebanggaan nasional.

"Komitmen dan usaha para pemangku kepentingan dalam memberikan kemudahan untuk menggali dan mengelola aset kekayaan peradaban di wilayah Kaltim ini harusnya difasilitasi sebaik-baiknya. Akses ini bergantung pada good will dan political will pemangku kepentingan di daerah maupun pusat," kata dia.

Pindi Setiawan, peneliti Insititut Teknologi Bandung, yang ikut dalam penelitian juga sempat mengatakan bahwa untuk menjangkau pegunungan karst di Kalimantan ini cukup sulit. Wilayahnya berada jauh di dalam pedalaman hutan yang masih lebat dan tidak ada akses ke sana.

Di sisi lain, Mendikbud Muhadjir Effendi mengatakan bahwa pihaknya telah bersedia memberikan anggaran, fasilitas dan tenaga untuk mendukung penelitian ini. Hal ini sesuai dengan mandat UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

"Kemendikbud sekarang sedang memperkuat posisi dalam memberikan afirmasi terhadap itu terutama setelah disahkannya UU pemajuan budaya," kata Muhadjir kemarin, Kamis (9/11) usai acara publikasi jurnal internasional tentang penemuan lukisan batu cadas tertua di dunia di Gedung Kemendikbud. (kst/age)