Berbeda dengan layanan serupa milik kompetitor, Euvin mengatakan fintech besutan Line menggunakan teknologi blockchain untuk pengiriman uang.
"Selain Clova AI dan pengembangan AI di LINE, tahun ini dan berikutnya kami juga akan fokus pada fintech," ujar Euivin di hadapan awak media di Tokyo, Rabu (21/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi yang dikembangkan Line menurut Hidekazu bisa memangkan proses transaksi tradisional yang membutuhkan jasa bank untuk pengiriman uang.
"Waktu itu saya harus menghadiri rapat yang tidak bisa lewati, namun anak perempuan saya terus menghubungi. Saya pikir dia ada masalah atau apa, ternyata anak saya ingin meminta uang untuk belanja di clothing store. Saya langsung mengirimkan uang dengan finalisasi pembayaran menggunakan fingerprint dan dalam waktu beberapa detik uang terkirim," kisahnya.
Di tahap awal, ia menjelaskan Line Pay akan berfokus pada pembayaran berasis QR code. Untuk menggunakan berbelanja, pengguna cukup memindai barcode dalam seketika uang akan berpindah ke akun penjual.
Hingga saat ini, Hidekazu mengatakan Line Pay telah memiliki 40 juta pengguna. Kedepannya, anak perusahaan Naver ini menargetkan nilai transaksi melalui Line Pay bisa mencapai 125 miliar yen atau sekira Rp16 triliun per bulan. (kat/evn)