Teguh menduga tudingan tersebut muncul karena ada maslaah politis di luar isu teknis. Ia beranggapan selama ini produk China masih memenuhi standar keamanan untuk digunakan dan beredar di Indonesia.
"Kadang-kadang kan ada masalah politis yang di luar teknis gitu ya, tapi yang ditumpangi unsur teknis. Ya itu kan kebijakan setiap negara untuk seperti itu," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (6/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain firmare-nya bisa diaudit, profesional, dan tidak mengandung hal tersebut, bisa ditelusuri, log datanya segalam amcam nggak ada yang nggak perlu khawatir," ucapnya.
"Kalau tidak bisa dilakukan itu, tidak bisa dilakukan pembuktian kembali, tidak bisa diaudit, ya itu patut dicurigai."
Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu menerangkan belum bisa memberikan keterangan terhadap kecenderungan adanya komponen spionase di perangkat-perangkat buatan China. Ia megaku masih perlu mengecek data milik Ditjen SDPPI.
"[Namun] dipastikan tidak ada penyadapan [di perangkat yang sudah beredar]. Dipastikan dia hanya berfungsi sesuai standar yang layak sesuai kesepakatan dunia di ITU," jelasnya.
Lihat juga:Selandia Baru Tolak Perangkat 5G Huawei |
"Ada sih tapi saya kurang tahu persis karena itu ranahnya teman-teman SDPPI," pungkas pria yang disapa Nando tersebut.
Pernyataan ini sekaligus merespons sikap sejumlah negara, seperti AS dan Selandia Baru yang menuding produk buatan China sebagai alat spionase. Pemerintah AS telah melakukan langkah penyelidikan terhadap Huawei dan ZTE atas tudingan pelanggaran aturan keamanan AS untuk perangkat telekomunikasi. (kst/evn)