Facebook memutuskan untuk melarang akses aplikasi milik Twitter itu untuk mengakses data penggunanya. Awalnya, pengguna Vine bisa mengundang teman-teman Facebook mereka untuk bergabung di aplikasi itu.
Namun saat itu, Facebook berdalih bahwa Vine memiliki "fungsi utama" yang sama seperti Facebook sehingga mereka menutup aksesnya. Menurut dalam email internal itu, vice-president Justin Osofsky menulis pada Zuckerberg untuk meminta izin penutupan akses Vine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kecuali ada yang mengajukan keberatan, kita akan menutup akses API teman-teman mereka hari ini. Kita sudah menyiapkan reaksi PR," lanjutnya.
Menanggapi kemunculan dokumen yang dijaga rahasia oleh perusahaan ini, Facebook mengatakan pimpinan mereka hanya mengikuti kebijakan dalam berkompetisi. Namun, perusahaan telah mengubah kebijakan itu sehari sebelum dokumen ini rilis.
Juru bicara melanjutkan pembatasan semacam ini umum dilakukan di industri teknologi dengan berbagai platform yang memiliki varian mereka sendiri termasuk YouTube, Twitter, Snap, dan Apple.
Vine sendiri saat ini sudah punah sejak ditutup pada 2017. Meski Twitter belum memberikan respons mengenai penjegalan ini, salah satu pendiri Vine, Rus Yusupov, sudah memberikan tanggapannya melalui Twitter.
Lihat juga:Cek Cara Ganti Tema WhatsApp |
Sementara itu, Facebook mengakui bahwa hanya ada beberapa dokumen yang dibocorkan secara sengaja. Zuck menulis bahwa dia tak ingin upaya mereka ini disalahartikan.
"Saya mengerti ada banyak penelitian tentang bagaimana kami menjalankan sistem kami. Itu sehat mengingat mayoritas orang menggunakan layanan kami di seluruh dunia, dan tak ada yang salah dengan meminta kami terus-menerus menjelaskan apa yang kami lakukan," buka Zuck.
Sebagai catatan, Komite parlemen Inggris yang dipimpin oleh Damian Collins meminta dokumen internal ini sebagai bagian dari penyelidikan yang lebih besar ke Facebook. Sosial media itu sedang diselidiki untuk penyebaran berita palsu, disinformasi dan privasi data yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.
Komite telah berulang kali meminta Zuckerberg untuk memberikan bukti, tetapi sejauh ini dia menghindari komite bahkan meski komite telah mengumpulkan anggota parlemen dari sembilan negara untuk "Grand Committee on Disinformation" yang belum pernah terjadi sebelumnya. (kst)