Fosil ini memiliki panjang lurus 3,3 meter dan memiliki panjang lengkung 3,6 meter. Fosil ini ditemukan oleh tim yang beranggotakan dosen-dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Yan Rizal, Aswa, Mika Puspaningrum, Ketua Lab Paleontologi Jahdi Zaim, Wahyu Santoso, Nur Rochim, dan Hascsryo.
Jahdi menjelaskan fosil ini ditemukan di dekat aliran sungai. Proses pengangkatan fosil juga tidak mudah karena cuaca buruk dan banjir bandang. Selain fosil Stegodon, peneliti juga menemukan fosil vertebrata lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Spesies ini kemungkinan trigonocephalus yang ada di Jawa, kemungkinan saat pulau Jawa ini baru menjadi daratan, dari makanan juga lebih banyak daun dan rumput-rumputan," Mika.
Laporan warga
Keberadaan fosil ini awalnya berasal dari laporan warga lokal di sekitar tepi sungai tempat ditemukannya fosil seperti gading. Nur menjelaskan proses ekskavasi fosil tidak mudah karena berada pada batuan pejal dan keras sehingga memerlukan ketekunan dan ketelitian.
"Adapun pengambilan sangat sulit karena pada saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, hujan deras, di sini pun (fosil) banyak yang tidak bisa keangkat secara utuh," kata Nur.
Ia juga mengatakan jarak dari lokasi penggalian ke jalan raya sangat jauh, sehingga fosil tidak dapat diangkat mengunakan alat besar dan berat. Untuk itu, Nur mengatakan tim tidak bisa mengangkat gading mengingat kondisinya yang rapuh. Ia menjelaskan tim harus mencetak gipsum sesuai dengan bentuk gading agar gading bisa diangkat secara utuh.
"Sebelum diangkat, gading ini dicetak terlebih dahulu memakai gipsum, ditempel pakai serat-serat kain halus agar terdapat cetakan. Cetakan tersebut akan sangat berfungsi apabila gading ini tidak didapat secara utuh," kata Nur. (jnp/evn)