Dibantu Toyota, Suzuki Mulai Kembangkan Mobil 'Hybrid'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 09:47 WIB
Dibantu Toyota, Suzuki Mulai Kembangkan Mobil 'Hybrid' Ilustrasi logo Suzuki. (Foto: REUTERS/Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suzuki tak puas dengan hanya memasarkan mild-hybrid vehicles (MHEV) disebut Ciaz dan Ertiga. Produsen asal Jepang itu pun kembali berinovasi menghasilkan hybrid sepenuhnya.

Maruti Suzuki India mulai mengembangkan Hybrid Electric Vehicle (HEV) hasil kerja sama Suzuki dengan Toyota. Perwakilan Maruti Suzuki Kenichi Ayukawa mengatakan bahwa dengan proyek ini pihaknya sekaligus ingin meningkatkan kerja sama kedua perusahaan.

"Secara global, Toyota adalah yang terbaik dalam hal teknologi hybrid dan kami mencoba untuk belajar (dari mereka). Kami akan mencoba untuk berkolaborasi. Kami, di Suzuki, juga memiliki beberapa sistem, tetapi teknologi Toyota sangat maju. Kami harus belajar banyak hal," kata Ayukawa diberitakan Indianautosblog, Jumat (21/12).


Menurut rencana Suzuki, pihaknya hanya akan menawarkan teknologi HEV untuk sejumlah model teratas seperti S-Cross dan Ciaz mengingat mahalnya sebuah teknologi ramah lingkungan tersebut. Seperti halnya Toyota juga memberlakukan strategi tersebut pada produk yang dijual.

Maruti Suzuki kian serius untuk pengembangan mobil ramah lingkungan ini, salah satunya dengan membangun pusat lokalisasi baterai lithium-ion di negara bagian India, yaitu Gujarat.

Ayukawa mengatakan bahwa pihaknya berharap langkah ini bisa didukung penuh oleh pemerintah setempat. Apalagi ini merupakan jembatan atas lahirnya mobil murni listrik.

"Kami mencoba untuk berkolaborasi dengan Toyota dalam mendorong sistem hibrid nasional jika pemerintah mendukung (dengan tarif pajak yang lebih rendah atau subsidi)," ucap Ayukawa.

Chairman Maruti Suzuki RC Bhargava menambahkan bahwa teknologi mobil listrik bakal memberi pengaruh besar terhadap lingkungan di India, begitu juga dari sisi impor bahan bakar kendaraan.

"Ini membantu mengurangi emisi karbon dan akan menghasilkan pengurangan impor bahan bakar hingga hampir 30 persen," tutup Bhargava. (ryh/mik)