Masalah itu menurut sumber Techcrunch lantaran ada serangkaian pengeditan yang menyesatkan untuk peta Thailand. Padahal pemetaan diperlukan untuk menambah rincian dan memperbaiki akurasi peta yang digunakan di delapan negara di Asia Tenggara tempat beroperasinya Grab, termasuk Indonesia.
Grab melakukan upaya peningkatan akurasi pemetaan menggunakan pendekatan multi-input menggunakan Google Maps sebagai basis dengan penambahan informasi sendiri. Mereka juga menerima umpan balik dari pelangga, informasi publik, atau informasi berlisensi lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal bagi perusahaan transportasi seperti Grab, akurasi pemetaan sangat penting untuk pengalaman berkendara yang baik. Tanpa ada detail lokasi yang akurat, dapat dipastikan pengemudi dan penumpang bisa tersesat.
Tidak seperti sukarelawan OSM yang mengumpulkan data secara pribadi, para kontraktor Grab menggunakan citra satelit untuk "memperbaiki" detail peta lokal di Thailand yang berubah cepat, misalnya di Bangkok.
Salah satu sukarelawan OSM yang merasa jengkel karena pembaruan yang ada justru tidak akurat. Rasa kecewanya ditunjukkan lewat tagar #WhatInGrabsNameIsThis untuk merekam jejak kesalahan GlobalLogic. Lebihd ari 30 suntingan menyertakan tagar tersebut, meski tak terhitung unggahan serupa lainnya yang kemungkinan belum ditemukan.
"OpenStreetMaps sebagian besar merupakan pekerjaan ketrampilan tetapi mereka datang dengan pola pikir industri," ujar Mishari Muqbil, anggota OSM yang berbasis di Bangkok kepada Techcrunch, Jumat (12/21).
"Ada pendaftaran massal dari 100 akun baru pada 15.11.2018 dari India, sebagian besar berasal dari satu alamat IP dari sebuah perusahaan yang 'dikenal' oleh OpenStreetMap," demikian tulis surat edaran agensi tersebut.
"Ada lebih banyak keluhan terkait pengeditan dari perusahaan itu, yang memberikan 'layanan pemetaan' ke perusahaan lain," lanjutnya.
Sementara itu, OSM yang didirikan sejak 2006 sebetulnya memiliki misi mulia untuk "membuat kumpulan data peta terbaik dunia" dengan memberdayakan para sukarelawan. Petanya dikembangkan oleh lebih dari 2 juta sukarelawan dari seluruh dunia dan tersedia untuk digunakan tanpa biaya. (kst/evn)