Untuk mendeteksi gempa, para ilmuwan menggunakan alat bernama seismograf. Bagaimana alat ini bekerja mencatat gempa?
Pada dasarnya seismograf dipasang di permukaan Bumi sehingga ketika tanah mulai bergetar, getaran itu ikut menggoyangkan cangkang dari instrumen bergerak seismograf. Getaran ini juga menggoyangkan pena pendulum yang ada di bawah massa pemberat yang akan mencatat pergerakan dan waktu terjadinya tremor atau getaran, seperti dikutip dari Live Science.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BMKG Jelaskan Fenomena Gemuruh di Lampung |
Jangkauan frekuensi yang dimiliki broadband seismograf lebih luas dari pada seismograf biasa. Frekuensinya berkisar antara 0,01 hingga 50 Hertz. Dia sensitif terhadap perubahan suhu dan atmosfer pula.
Piranti lunak di dalam komputer kemudian mengolah datanya untuk menghasilkan broadband seismograf. Umumnya piranti lunak yang digunakan adalah NetRec atau MnoST.
"Secara otomatis kalau semuanya mendeteksi atau tiga mendeteksi kami bisa tahu sumber getaran dan kekuatannya berapa, kalau signifikan kami bisa keluarkan warning," lanjut Rahmat.
Untuk itu, deteksi gempa dengan skala lebih kecil dari 3,4 sampai 3,5 magnitudo dilakukan. Hal ini merujuk pada kejadian di Selat Sunda di mana diperkirakan gempa sebesar 3,4 M mampu menyebabkan tsunami setinggi 2-5 meter. (kst/eks)