Menurut penelitian yang dilakukan oleh Thomas Giachetti dari University of Oregon dan kawan-kawannya ini menyebutkan kalau longsor bisa terjadi di arah barat daya gunung tersebut. Longsoran ini bisa memicu gelombang awal setinggi 43 meter. Gelombang ini akan mencapai pulau Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan ombak setinggi 15 hingga 30 meter.
Ombak tinggi tersebut berbahaya bagi kapal wisata kecil yang berkeliling di sekitar Kepulauan Krakatau. Tsunami kemudian akan mencapai kota-kota pantai barat Jawa seperti Merak, Anyer dan Carita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, deteksi cepat longsor oleh observatorium gunung berapi, bersama dengan sistem peringatan yang efisien di pantai disebut bisa meminimalisir peristiwa mematikan itu.
"Sudah ada mitigasi kalau terjadi longsor tapi kan kita tidak tahu akan terjadinya kapan, berapa besar, kan di gunung berapi lain juga ada longsor," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Namun, Indonesia memang tidak memiliki pendeteksi tsunami yang diakibatkan oleh longsor bawah laut atau erupsi gunung.
Sebelumnya, sebanyak 430 dipastikan meninggal sementara 159 hilang akibat tsunami yang menerjang di Banten dan Lampung. Tsunami di Selat Sunda diyakini dipicu oleh longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang ada di tengah laut.
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau naik menjadi level III atau siaga pada Kamis (27/12). Sehari sebelumnya gunung tersebut terpantau terus menerus mengalami gempa tremor. (kst/eks)