"Saat kali masuk ke Asia Tenggara, Uber sangat agresif lewat promo dan insentif bagi pengemudi. Selain telah dikenal banyak orang, mereka juga punya banyak insinyur dari Silicon Valley dengan dana tak terbatas dan kemampuan yang tak perlu diragukan," ucap Hooi Ling Tan saat diskusi media, baru-baru ini di Jakarta.
Perempuan berambut pendek ini mengakui jika aksi korporasi ini sebagai aksi yang saling menguntungkan kedua pihak. Pasalnya, sebelum bisnis di Asia Tenggara akuisisi oleh Grab, Uber sudah tersedia di delapan negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hooi Ling mengaku pihaknya mengambil langkah berani dengan niat akuisisi Uber. Selain menjadi pemegang saham mayoritas, Grab juga mendapatkan akses ke pengembangan teknologi yang dimiliki Uber.
"Sebelum akuisisi, Uber hadir di delapan negara di Asia Tenggara di mana pada tujuh negara Uber sangat aktif. Grab juga hadir dan ekspansi di delapan negara yang sama," ucapnya.
Sebelumnya pada Maret lalu, Grab mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara dengan skema tukar guling saham. Dalam akuisisi ini Uber menjual bisnis di Asia Tenggara ke tangan Grab dan Uber memiliki 27,5% saham di perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut. (evn)