Produsen komputer ini mulai memperdagangkan sahamnya di bursa saham New York dibawah nama Dell. Sebelumnya, Dell telah membeli kembali saham pembuat perangkat lunak VMware. Dell memegang 81 persen saham perusahaan ini. Aksi transaksi tunai-saham (cash-and-stock) dengan nilai hampir US$24 miliar (Rp347 triliun; kurs Rp14.490).
Pembelian saham kembali membuat Dell bisa memotong proses IPO tradisional. Sebab, dengan proses IPO tradisional membuat Dell mesti melewati penilikan investor lantaran perusahaan memiliki utang US$52,7 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awal 2000 Dell dipandang sebagai pionir dari penjualan online untuk PC yang bisa dikonfigurasi sendiri. Perusahaan ini juga membuat kerjasama erat dengan perusahaan manufaktur di Asia untuk menjaga biaya produksi yang rendah.
Hal ini mendorong Michael Dell untuk mengambil alih perusahaan dari pasar modal. Menurutnya, akuisisi ini akan mentransformasi perusahaannya dari pembuat PC menjadi penjual layanan teknologi informasi, mulai dari storage, server, jaringan, hingga keamanan siber.
Tapi sepertinya, strategi Dell berhasil. Layanan yang ditawarkan Dell membuat banyak perusahaan bisa mendapat solusi one-stop-shops untuk membantu mengatur infrastruktur TI mereka di awan (cloud).
Dilaporkan, pendapatan Dell naik 15 persen pada kuartal lalu. Hal ini mengoreksi total pendapatan perusahaan itu pada 2019 dari US$90,5 miliar menjadi US$92 miliar.
Berdasarkan data Canalys dari data per tanggal yang sama tahun lalu menunjukkan Dell menguasai 17 persen dari total pasar PC dunia, masih dibelakang rival beratnya HP yang kuasai 23 persen pasar, dan Lenovo di angka 21 persen. (reuters/eks)