"Go New Horizons!" ujar Pemimpin penelitian, Alan Stern diiringi suara terompet dan gempita peserta pesta, anak-anak berkostum astronaut, di Laboratorium Fisika terapan Johns Hopkins, Maryland, Amerika Serikat, Selasa (1/1) seperti dikutip dari AFP.
Stern mengucapkan hal tersebut pada pukul 00.33 waktu setempat, masa yang sama dengan meroketnya New Horizons.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati memberikan gambaran jarak dekat, New Horizon tidak bisa menyiarkan kondisi Ultime Thule secara langsung. Pasalnya, sinyal yang dikirim Bumi-New Horizons dan sebaliknya setidaknya membutuhkan waktu sekitar enam jam.
Sinyal pertama dari New Horizons baru diterima bumi baru sekitar 10 jam setelah peluncuran atau pukul 09.45 waktu Amerika. Pada saat itu juga NASA baru mengetahui apakah New Horizons sampai di 2.200 mil (3.540,5 km) di atas permukaan Ultima Thule.
Lihat juga:Rentetan Peristiwa Sains Penting di 2018 |
"Ini adalah malam yang tidak akan kita lupakan," ucap Brian.
Stern mengatakan Ultima Thule adalah obyek yang unik. Ultima Thule, ucapnya, adalah peninggalan dari masa-masa awal terbentuknya alam semesta.
"Segala sesuatu yang akan kita pelajari tentang Ultima - mulai dari komposisi hingga geologinya hingga bagaimana awalnya terbentuk, apakah ia memiliki satelit dan atmosfer dan hal-hal semacam itu, akan mengajarkan kita tentang kondisi pembentukan asli benda-benda di sistem tata surya," ucap Stern.
Bukan hanya New Horizons yang menciptakan rekor di momen pergantian tahun 2018 ke 2019.
Pesawat luar angkasa milik NASA lainnya, OSIRIS-REx juga menciptakan rekor baru pada 31 Desember 2018 lalu dengan memasuki orbit asteroid Bennu. Itu adalah obyek kosmos terkecil yang pernah dikelilingi pesawat luar angkasa. Diameternya sekitar 500 meter.
Catatan redaksi: Terdapat pergantian judul oleh redaksi pada Jumat, 4 Januari 2019 pukul 11.08 WIB dari "NASA Peringati Tahun Baru dengan Luncurkan New Horizons" menjadi "New Horizons Milik NASA Mulai Misi Jelajah Ultima Thule". (sah/kid)