Media sosial, bagi peneliti Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) Rinaldi Camil, adalah salah satu ruang publik. Ruang publik ini seharusnya menghasilkan pelbagai dialog alamiah untuk mendiskusikan suatu isu.
"Media sosial bagi masyarakat itu ruang publik di mana bisa dimunculkan dialog sehat sehingga bisa memunculkan diskusi-diskusi diskursus publik atau opini publik yang murni sebagai suara publik," ujar Rinaldi baru-baru ini kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika buzzer ramai, interaksi yang terjadi malah antara buzzer. Oleh karena itu terjadi pembajakan ruang publik, sehingga yang terjadi jadi adalah kesulitan ketika orang ingin berpendapat secara sehat di media sosial. Suara asli publik itu tertutup karena distorsi pada ruang publik." kata Rinaldi.
Lihat juga:Taktik Licik Buzzer Politik |
"Ketika dia ingin mengungkap fakta Jokowi dia dicap kampret. ketika mengungkap fakta menyerang Jokowi dicap cebong. Akibatnya akan ada keengganan publik untuk bersuara," katanya.
Trending topic bayaran
Kepalsuan suara publik di media sosial diakui oleh seorang mantan buzzer yang bernama Rahaja Baraha. Rahaja bahkan mengatakan ada beberapa oknum yang menjual jasa untuk menempatkan suatu isu di trending topic Twitter.
"Trending topic di Twitter itu bisa juga setting-an buzzer. Per 8 jam bisa Rp4 juta sampai Rp5 juta. Ada oknum yang menjual jasa itu," kata Rahaja.
"Pertama ada akun influencer yang follower banyak, dia maju duluan. Kemudian dia punya akun-akun kecil yang cuit dari seluruh Indonesia. Mereka ini cuit bersama-sama dan sudah dijadwalkan," kata Rahaja.
"Butuh seribu tweet dalam waktu intens buat jadi trending. Dalam waktu cepat, singkat, dan dari seluruh Indonesia," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)