Sebab, cara kerja sensor tsunami bekerja dengan mengukur perubahan tekanan air. Sehingga alat itu dapat mendeteksi tsunami baik yang diakibatkan oleh gempa tektonik maupun vulkanik. Sehingga, Bambang pun mempertanyakan apakah Indonesia sebenarnya memiliki sensor pendeteksi tsunami atau tidak.
"Sensor tsunami itu pada prinsipnya sensor tekanan air, tidak lebih dari itu. Jadi tidak ada bedanya mendeteksi tsunami yang disebabkan oleh gempa (tektonik) maupun yang disebabkan oleh vulkanik, jelas Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Bambang Widiyatmoko saat media briefing di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu (2/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang mengatakan yang menjadi patokan dari sensor tersebut adalah tekanan air. "Karena sistemnya adalah sistem tekanan air," tuturnya.
Sementara itu BMKG sebelumnya mengaku telah memasang sensor ketinggian air atau water level dan sensor curah hujan di Pulau Sebesi, Selat Sunda, untuk mendeteksi kemungkinan gelombang tinggi sebagai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Alat tersebut disebut terkoneksi langsung ke server Automatic Weather Station (AWS) Rekayasa di BMKG.
Menurut Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto, sensor ketinggian air tidak sama dengan sensor tsunami. Bahkan alat tersebut bukanlah pendeteksi tsunami melainkan hanya alat yang berguna untuk mengukur pasang surut air.
Nantinya, Eko menjelaskan alat tersebut akan merekam peristiwa tsunami. Justru hal itu dinilainya tidak akan terlalu berpengaruh pada keselamatan masyarakat yang berada di sekitar pantai.
"Tidak memengaruhi (pemberitahuan dini) karena dia diharapkan akan merekam kejadian tsunami. Kalau kecepatan gelombangnya cukup lambat masih bisa dimanfaatkan oleh yang ada di Bandar Lampung, tapi kalau cepat hanya sedikit waktu untuk masyarakat," ucapnya. (gst/evn/eks)