Konsumen di AS beberapa tahun terakhir lebih tertarik membeli mobil SUV dan pikap. Berdasarkan laporan masing-masing perusahaan, GM dan Ford mencatat penurunan. Fiat Chrysler mengalami peningkatan cukup tinggi.
GM, sebagai produsen otomotif terbesar AS melaporkan penurunan penjualan sebesar 2,7 persen pada kuartal keempat dan penurunan mengalami 1,6 persen untuk 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raksasa industri lain, Toyota, juga mencatat penurunan penjualan di negeri paman sam AS pada Desember sebesar 0,9 persen dan untuk periode satu tahun sebesar 0,3 persen.
Honda juga bernasib buruk, yakni turun 2,2 persen untuk tahun lalu. Produsen Jepang lain, Nissan turun 6,2 persen pada 2018. Mazda bernasib sebaliknya, penjualannya turun 3,8 persen pada Desember 2018, namun secara total naik 3,7 persen untuk tahun penjualan 2018.
Tesla cuma menggelontorkan sebanyak 90.700 unit pada kuartal keempat, atau turun dari periode sama tahun lalu yang sebesar 91.000 unit.
Para analisis memperkirakan perlambatan penjualan otomotif AS masih akan terasa di tahun ini, salah satunya disebabkan ketegangan ekonomi antara AS dan China serta Eropa membuat penjualan otomotif di negara yang secara historis yang cukup besar bagi industri otomotif ini.
"Kami memperkirakan penjualan (otomotif) masih akan tersendat pada 2019. Bagi beberapa produsen mobil, perlambatan sudah mulai terasa," kata Ekonom Senior Otomotif Cox Charlie Chesbrough dalam sebuah pernyataan.
Kelley Blue Book, perusahaan valuasi kendaraan dan riset otomotif yang berbasis di Irvine, California, mencatat rata-rata harga mobil baru naik sekitar tiga persen sepanjang 2018, atau rata-rata harga mobil di atas US$36.000 (Rp514 juta).
Kenaikan harga jual mobil akan terus terdongkrak pada tahun ini yang berujung pada pelemahan daya beli konsumen terhadap produk otomotif. (mik)