Ragam Respons Tanggapi Seruan Boikot Huawei di Eropa

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 13/01/2019 11:13 WIB
Ragam Respons Tanggapi Seruan Boikot Huawei di Eropa Kisruh Huawei menyebabkan pro dan kontra di Eropa. (Foto: REUTERS/Thomas Peter)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dipimpin oleh AS, Eropa disebut memboikot penerimaan alat telekomunikasi Huawei 5G. Beberapa pemerintah menyatakan tak masalah dengan kecurigaan mata-mata melawan China, tetapi sebagian besar mendukung pemboikotan tersebut.

Pada hari Jumat (11/1) lalu, Polandia mengumumkan telah menahan seorang eksekutif telekomunikasi yang dituduh menjadi mata-mata China. Media lokal kemudian mengidentifikasi pria tersebut sebagai direktur Huawei cabang Polandia.

Sabtu (12/1), pihak Huawei menyebutkan telah memecat karyawan yang ditahan di Polandia tersebut, mengatakan bahwa 'tindakan apapun yang diduga dilakukannya tidak berkaitan dengan perusahaan'.


Huawei disebut telah melihat putri pendiri perusahaan tersebut ditahan di Kanada dan Amerika pun segera berusaha memasukkan perusahaan ke dalam daftar internasional karena masalah keamanan.


Sejumlah negara-negara Asia Pasifik telah mengikuti seruan Washington untuk melarang peredaran produksi Huawei

Eropa memberikan panggilan yang dipimpin AS untuk memboikot penerimaan peralatan telekomunikasi Huawei 5G, namun lebih banyak pro dan kontra di Eropa, terutama karena kemampuan 5G Huawei yang sangat menarik. Menurut analisis, fitur ini selangkah lebih maju dari Ericsson milik Swedia, Nokia milik Finlandia dan Samsung dari Korea Selatan.

Teknologi 5G atau Fifth Generation merupakan lompatan kuantum dalam kecepatan komunikasi nirkabel. Hal ini akan menjadi kunci untuk perkembangan teknologi berikutnya, termasuk mobil yang bisa berjalan sendiri. Karena alasan itulah, Eropa ingin segera mengembangkan kemungkinan tersebut.

"Banyak operator telah mencari alternatif lain, tetapi akhirnya menyadari bahwa Huawei lebih inovatif dan mungkin, lebih baik untuk [teknologi] 5G," ujar Dexter Thillien, seorang analisis di Fitch Solutions.

Belakangan ini, Huawei menghadapi masalah bertubi-tubi, terutama dengan meningkatnya pengawasan atas dugaan keterkaitan dengan Badan Intelijen Tiongkok. Hal ini mendorong AS, Australia dan Jepang untuk memblokir dari jaringan internet 5G mereka.


Namun di Eropa, operator utama Portugal, MEO, menandatangani perjanjian dengan Huawei pada Desember 2018 silam saat kunjungan President China Xi Jinping. MEO menyebut perusahaan China tersebut dengan 'mengetahui persis, berkompeten, dengan talenta dan kapasitas untuk mengembangkan teknologi dan berinvestasi di negara kami'.

Jerman pun saat ini berada di bawah tekanan untuk mengikuti tindakan Washington, dilansir dari AFP. Namun pengawas IT negara tersebut menyatakan tidak ada kecurigaa bahwa Huawei bisa menggunakan perangkat mereka untuk memata-matai Beijing.

Sementara kebanyakan para pelaku bisnis telekomunikasi Eropa memandang pelarangan Huawei tidak sangat urgensi, lantaran peluang bisnis yang ditawarkannya.

"Huawei sangat mahal dibandingkan kompetitor lain, tetapi juga jauh lebih baik," ujar seorang karyawan operator Eropa yang menolak disebutkan namanya.

Menurut sumber tersebut, peralatan Huawei 'jauh di depan' dari kompetitor Eropa. (rea)