Bhima memprediksi pertumbuhan sektor informasi dan komuunikasi sekitar 8 persen hingga 8,5 persen secara year on year (YoY) pada 2019. Proyeksi angka ini lebih rendah jika dibandingkan pencapaian data pada kuartal III 2018 sebesar 8,98 persen.
"Lebih banyak orang membeli paket data itu juga bisa jadi sangat kecil," kata Bhima dalam acara Seluler Business Forum di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Kamis (17/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bhima menilai pasar yang sensitif terhadap harga ini cukup sulit diatasi di tengah persaingan ketat industri telekomunikasi. Namun, posisi operator dan vendor ponsel juga tak lebih baik karena segmen masyarakat kelas atas menahan diri untuk belanja karena adanya tahun politik.
"Kenapa pemerintah? karena jelang tahun politik mereka memperbesar belanja IT berkat desakan masyarakat dan industri yang menagih pemerintah untuk beralih ke era 4.0," tambahnya seraya melanjutkan bahwa INDEF mencatat belanja IT pemerintah pada 2018 menembus 6 persen.
E-Commerce Belum Bertaring
Bhima juga mengungkap bahwa e-commerce masih belum akan meroket pada 2019, paling mentok toko online baru akan menyumbang 2 persen hingga 3 persen dari total retail nasional.
"Shifting dari ritel ke e-Commerce itu masih mitos. e-Commerce maksimal masih 2 persen. Shifting itu masih belum terjadi," paparnya.
"E-commerce porsinya hanya akan 2 persen hingga 3 persen bukan 5 persen hingga 10 persen dari total ritel nasional," imbuhnya.
Oleh karena itu, dia meminta pemain di industri telko untuk lebih berhati-hati dalam menentukan langkah dan target bisnisnya sepanjang 2019. Kata dia, optimisme bisnis telko dari pertumbuhan minus 2018 boleh saja dimiliki asalkan berdasarkan data realistis. (kst/kst/age)