Oskar mengaku ia dan tim hanya menyiapkan layanan perekaman debat perdana capres hanya dalam hitungan jam.
"Persiapannya cuma sehari, tepatnya siang hari beberapa jam sebelum debat ada permintaan dari penyelenggara siar [untuk membuat layanan perekaman debat]," jelas Oskar melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejumlah fitur yang dimiliki BahasaKita belum terintegrasi pada perekaman hasil debat karena keterbatasan persiapan," imbuhnya.
Oskar mengatakan platform BahasaKita dikembangkan pada tahun 2013, jauh sebelum ia memutuskan hengkang dari BPPT. Selepas dari BPPT, ia tekun mengembangkan transkrip otomatis sekaligus kemampuan analitik audio-teks.
Menurutnya, ide awal pengembangan BahsaKita berasal dari kesulitan mencatat saat rapat atau diskusi. Sistem yang bisa merekam setiap detil pembecaraan lengkap dengan pembicara dan waktu pembahasan.
"Waktu itu berpikir enak kalau ada sistem yang bisa tahu siapa bicara apa dan jam berapa. Ide itu kemudian dikembangkan dengan megakomodir kapan, siapa, membicarakan apa, dan jam berapa agar tidak ada bagian pembicaraan yang terlewatkan," ucapnya.
BahasaKita lebih jauh juga melakukan pemrosesan kata dengan menghitung berapa banyak kata yang diucapkan oleh satu orang, kata apa yang paling sering diucapkan.
Termasuk menganalisa topik pembicaraan saat rapat, diskusi, hingga debat. Dari semua informasi yang dihimpun, nantinya sistem bisa menarik kesimpulan sentimen positif atau negatif dari hasil pembicaraan.
Sejauh ini, Oskar mengatakan layanan besutannya hanya digunakan oleh lembaga pemerintahnya. Kedepan, ia berencana layanan serupa juga bisa dipakai oleh pengguna umum.
"Sejauh ini kebanyakan penggunanya pemerintahan. Tapi rencananya nanti bisa digunakan oleh perusahaan dan pengguna personal," ucapnya menambahkan. (evn)