Subronto melihat kondisi saat ini perlu mengkaji merek-merek mobil yang dijual di Indonesia dengan titel completely build up (CBU). Dijelaskan Subronto mobil-mobil impor akan semakin terhimpit dan kalah bersaing. Persaingan ketat ini akhirnya memaksa Indomobil melepas keagenan Renault.
Di samping 'cerai' dengan Renault, grup Indomobil diisukan akan kembali melepas merek kendaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Indomobil Menjawab Alasan Melepas Renault |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kategori kendaraan komersial, yakni Hino, Volvo truck, Renault truck. Pemanufaktur yang telah merakit lokal sejumlah produknya adalah Audi, Datsun, Nissan, Suzuki, dan Hino.
Mengaca pada kasus Renault, Subronto menginginkan keseriusan prinsipal membangun fasilitas produksi di dalam negeri sehingga tidak perlu impor mobil. Karena itu, pihaknya mempertimbangkan apakah perusahaan tersebut wajib dipertahankan.
"Perkembangan (industri otomotif Indonesia) ke depan sudah berubah. Izin impor enggak gampang, tidak ada gunanya buat kami. Kalau kami enggak punya pabrik (produksi Renault di dalam negeri) buat apa?," ucap Subronto.
Sementara ketika disinggung wacana pabrikan otomotif Volkswagen membangun pabrik di Indonesia justru Subronto agak pesimistis. Sebab pertimbangan prinsipal membangun fasilitas pabrik adalah volume penjualan.
"Bangun pabrik rasanya enggak gampang, kecuali ada kemudahan. Memproduksi mobil itu harus ada lokal konten, minimum 40 persen. Dan minimal bisa jual 3.000 unit per tahun," ujar Subronto. (ryh/mik)