Sementara mereka yang mementingkan gengsi, mereka memilih beli dari pasar gelap jenis ponsel tertentu tidak mendarat di Indonesia tapi tersedia di black market.
Hal ini diungkap oleh seorang calon pembeli di salah satu pusat perbelanjaan elektronik di Jakarta, Puspita. Ia mengungkap sebelumnya pernah membeli ponsel ilegal karena alasan harga. Beberapa tahun lalu, dia pernah membeli iPhone 5S karena harga miring yang ditawarkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena keuangan menipis dan ternyata harganya murah, akhirnya saya beli. Saat itu, ponsel ilegal bisa lebih murah Rp3 juta dibandingkan iPhone 5S di iBox," tutur Puspita.
Hal itu dilakukan karena versi 4G ponsel itu tidak mendarat di Indonesia. Bahkan ia mengaku Redmi Note 3 3G resmi di Indonesia lebih mahal Rp100 ribu dibandingkan Redmi Note 3 4G ilegal.
Harga jual yang lebih miring dari distributor resmi seringkali menjadi daya tarik pembeli memilih ponsel dari pasar gelap (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sementara Mundri, seorang pegawai swasta, mengaku terpaksa membeli ponsel ilegal lantaran ponselnya rusak dan tak menemukan ponsel bergaransi resmi saat mencarinya di pusat perbelanjaan elektronik.
"Waktu itu handphone saya rusak, jadi butuh cari ganti cepat. Saya cari di ITC, cari yang garansi TAM habis, akhirnya terpaksa yang BM, warna pink pula, karena terpaksa saya ambil juga [...] lebih murah Rp300 ribu-lah," tuturnya saat ditemui di Jakarta, Senin (28/1).
Gengsi
Dalam kesempatan berbeda, seorang calon pembeli di pusat perbelanjaan lain bernama Puspita pun pernah membeli ponsel ilegal Xiaomi Mi 8 yang tidak mendarat di Indonesia.
Xiaomi hanya mendaratkan Xiaomi Mi 8 Lite di Indonesia. Demi kebanggaan sendiri, kemudian ia membeli ponsel ilegal tersebut.
"Jadi kalo saya memang ingin yang beda saja. Soalnya jadi kebanggaan tersendiri kalo saya punya ponsel BM, karena bisa punya yang orang lain tidak banyak punya," kata Puspita.
"ROG Phone dijual di Tokopedia harga Rp21 juta. Dari November 2018 udah ada yang jual. Kita launching resmi mid (pertengahan) Desember, harga Rp14juta doang," tuturnya ketika dihubungi via pesan teks, Kamis (24/1).
Menurut Firman pembelian untuk ponsel ini cukup banyak untuk barang yang dijual seharga puluhan juta, meski tak merinci seberapa banyak.
Lebih lanjut, menurutnya akibat aturan TKDN, pihaknya tak bisa memasukkan barang sesegera mungkin. Meski sudah diumumkan sejak Desember, tapi Firman menyebut produknya itu baru ada di pasaran sekitar Februari atau Maret.
"User (pengguna) yang jadi target market kita sudah pada beli dari importir gelap," keluhnya. "Pemerintah dirugikan, Asus Indonesia pun dirugikan."
Sehingga, Firman sangat mendukung wacana pemerintah untuk menerapkan pemblokiran ponsel ilegal lewat IMEI yang akan diterapkan. (eks/jnp/age)
Harga jual yang lebih miring dari distributor resmi seringkali menjadi daya tarik pembeli memilih ponsel dari pasar gelap (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)