Demikian disampaikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto dalam acara seminar otomotif mobil listrik Indonesia-Jepang di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (29/1).
"Yang kami dorong dengan Jepang ini adalah, bukan hanya jepang, Korea juga saya sampaikan. Ini pabrik baterainya baru materialnya saja. Dan itu kami dorong investor, tidak hanya Jepang," kata Harjanto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah terus berupaya mempercepat industri kendaraan listrik di dalam negeri. Sebagai bukti awal tahun ini meresmikan peletakan batu pertama pembangunan QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Agustus 2018 telah pemerintah meresmikan kawasan pabrik pembuatan pabrik baterai kendaraan listrik dengan investor Indonesia Weda Bay Industria Park (IWIP).
Investasi di Halmahera mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp144 triliun. Anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan kawasan industri tahap pertama, sebesar US$5 miliar, kemudian tahap berikutnya sebesar US$5 miliar.
Harjanto mengatakan para investor dari negara itu hingga kini belum membuat keputusan. Sebab, yang jadi pertimbangan bahwa pengembangan kendaraan listrik juga dilakukan para investor-investor tersebut di negaranya masing-masing.
Harjanto menambahkan tidak hanya dari Jepang dan Korea, pemerintah turut membuka kesempatan kepada setiap investor yang mau membenamkan uangnya untuk pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air.
Sementara itu Deputy Director-General, Manufacturing Industries Bureau, Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Yoji Ueda mengatakan bahwa Indonesia dan Jepang telah lama menjalin hubungan kerja sama terutama dalam pengembangan sektor industri otomotif.
"Di sektor otomotif, Jepang telah memainkan peran utama dalam kontribusi sebagai pemain bisnis utama. Selain itu, Jepang dengan sumber daya alam yang terbatas, terus melakukan pengamanan pasokan energi yang stabil," kata Ueda. (ryh/mik)