Jadi, peningkatan target ekspor mobil Completely Built Up (CBU) yang sudah ditentukan buat 2019 juga mesti diimbangi strategi melobi prinsipal yang kebanyakan berada di Jepang.
Pada 2018, seluruh anggota Gaikindo mencatatkan angka ekspor kendaraan CBU sebanyak 264.553 unit. Toyota merupakan pengekspor terbesar sejumlah 206 ribu unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu mungkin saja, tetapi ekspor itu dikendalikan oleh para prinsipal, rata-rata kantor pusatnya di Jepang. Pihak Indonesia harus mati-matian ke sana. Jadi kami tentunya berharap prinsipal itu bisa menggenjot ekspor," ujar Jongkie saat dihubungi, Kamis (14/2).
Saat ini lima besar produsen mobil di Indonesia adalah Daihatsu, Toyota, Honda, Mistubishi, dan Suzuki. Induk perusahaan kelima produsen tersebut ada di Jepang.
Bukan cuma membutuhkan peran pemerintah, Jongkie juga mengatakan inisiatif rekanan prinsipal di Indonesia juga penting buat meyakinkan peningkatan ekspor.
"Mudah-mudahan target itu bisa tercapai, tetapi kalau mau lebih kencang lagi mesti begitu. Kapasitas produksi kita cukup, tinggal prinsipal ini didorong jual barang buatan Indonesia," kata Jongkie.
"Itulah makanya kami bilang harus ditambah, jangan hanya MPV atau SUV, karena permintaan dunia itu masih ada sedan dan pikap," ucap Jongkie.
Jongkie menjelaskan harmonisasi pajak yang sudah diusulkan dan sedang dikaji pemerintah bisa menjadi solusi agar prinsipal berani memproduksi lebih banyak model selain MPV di dalam negeri.
"Ini kan tergantung. Harmonisasi tarif, berikutnya meningkatkan angka penjualan dari jenis lain yang harganya terjangkau sehingga orang mau beli. Kalau pasarnya sudah besar, pasar sedan, SUV, atau pikap dan lain-lain maka prinsipal akan memikirkan memproduksi lokal kemudian ekspor. Ini urutan yang mesti dijalani, tidak bisa loncat-loncat," papar Jongkie. (fea)