Australia Siap Buka Gerbang Ekspor Otomotif dari Indonesia

AFP, CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 09:20 WIB
Australia Siap Buka Gerbang Ekspor Otomotif dari Indonesia Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas dan kendaraan ekspor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 11 Februari 2019). (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perjanjian perdagangan Indonesia dan Australia yang tertunda dijanjikan pihak Australia bakal ditandatangani pada Maret. Dalam perjanjian itu, salah satu sektor yang bakal dieksplorasi adalah otomotif.

Perjanjian itu sebenarnya sudah dibahas sejak 2010 dan sempat direncanakan bakal disetujui kedua belah pihak pada akhir tahun lalu. Namun impian itu gagal karena Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengusulkan merelokasi kedutaan besar ke Yerusalem.

Morrison pertama kali mengusulkannya pada Oktober. Lantas pihak Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam protes.


Israel dan Palestina sama-sama mengklaim Yerusalem adalah Ibu Kota mereka. Kebanyakan negara menghindari menggeser kedutaan besar agar pembicaraan damai atas status final Yerusalem tidak terganggu, sampai akhirnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan merelokasi kedutaan besarnya.

Pada Desember Morrison mengakui Yerusalem barat sebagai Ibu Kota Israel. Meski begitu dia mengatakan perpindahan kedutaan besar yang kontroversial tidak akan terjadi sampai penyelesaian damai terwujud.

Morrison tetap memegang keputusannya walau banyak protes dari negara-negara tetangga yang beragama Islam.

Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham menjelaskan perjanjian perdagangan dengan Indonesia bakal meningkatkan aliran perdagangan dan investasi secara dua arah, menciptakan lebih banyak peluang buat petani, bisnis, dan pengembangan ekonomi.

"Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dengan pertumbuhan perekonomian cepat, ini bakal menguatkan hubungan keduanya secara strategis dan kepentingan perekonomian," kata Birmingham dilansir dari AFP, Jumat (15/2).

"Saya berkelanjutan telah mendapatkan diskusi konstruktif dengan beberapa menteri Indonesia dalam beberapa bulan ke belakang dan saya senang bisa menyelesaikan kesepakatan yang kami harap bisa ditandatangani pada Maret," ujar Birmingham.

Juru bicara dari Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, mengonfirmasi penandatanganan perjanjian bakal dilakukan dalam jangka waktu dekat.

"Semua isu telah didiskusikan dan negosiasi telah difinalisasi," ucap Nasir.

Pada 2017 perjanjian bilateral Indonesia dan Australia senilai US$11,7 miliar. Perjanjian ini mencakup area peternakan, tambang, kayu, elektronik, tekstil, dan otomotif.

Kementerian Perindustrian pernah menyampaikan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Australia dinanti sebab membuka banyak peluang buat industri, salah satunya otomotif. Perjanjian dengan Australia merupakan salah satu dari 12 perjanjian perdagangan baru yang sedang digarap pada tahun ini.

"Kalau CEPA dengan Australia itu terbuka, maka ada satu juta pasar yang terbuka untuk ekspor otomotif kita ke sana. Sebab, kami sudah bicara dengan prinsipal, ekspornya akan dari Indonesia," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, Rabu (13/2). (fea)