Saat ada informasi masuk, otak akan bekerja untuk menentukan untuk mempercayai suatu informasi atau tidak.
Dikatakan Roby, tujuan tersebut lantaran manusia pertama kali menyaring informasi yang masuk melalui bagian otak (amigdala) yang berfungsi menentukan persepsi emosi seperti marah, takut, cemas, dan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hoaks ini menargetkan kecemasan, ketakutan harapan manusia. karena mudah mempengaruhi perilaku dan sikap termasuk perilaku dan sikap politik yang sekarang sedang sangat relevan," kata Roby dalam acara bertajuk "The Science Behind Hoax" di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (18/2).
Kendati demikian, makhluk hidup sudah terbiasa berbohong. Kebohongan sudah terjadi sejak empat miliar tahun lalu. Bentuk kebohongan makhluk hidup bisa berupa mimikri hingga kamuflase.
Menurut Roby, informasi hoaks merupakan bentuk kebohongan yang memiliki tujuan tertentu. Hoaks terkait isu politik bertujuan untuk mengubah pandangan politik.
Menurutnya, pemblokiran terhadap informasi hoaks bukan langkah efektif. Hal itu lantaran penyebaran media sosial sudah menjamur di berbaga media sosial. Ibarat pepatah mati satu tumbuh seribu, penyebaran hoaks menjamur meski sudah dilakukan pemblokiran dengan menggunakan fitur "share".
Tonton juga video: Rudiantara Bicara Ujaran Kebencian di Medsos
[Gambas:Video CNN]
(jnp/evn)