Kusumo mengatakan investor asing cenderung bisa meninggalkan startup begitu saja apabila perusahaan mengalami kerugian atau krisis. Sedangkan investor lokal cenderung lebih bertanggung jawab dalam menemani startup untuk keluar dari krisis.
"Kalau ada apa-apa (startup) hilang kan (investor lokal) tidak bisa. Kalau asing (bisa pergi) kapan saja kalau dia tidak suka. Sudah terjadi juga pada startup kalau diikuti dari 2011 sampai sekarang. Beberapa sudah pull out juga. Pasti merugikan. Karena yang hilang tenaga kerjanya berapa," ujar Kusumo, Selasa (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"E-commerce itu bisnis yang panjang, bisnis yang maraton. Sampai membawa untung, berdiri sendiri, bisa independen, bisa sustainable," ujar Kusumo
"Tapi saya pikir pemerintah harus menyiapkan regulasi yang kondusif dan juga sesuatu yang mempromosikan supaya investasi berhasil dan jangka panjang. Jangka panjang kalau mereka dapat benefit mereka akan stay," ujar Kusumo.
Lebih lanjut, Kusumo mempertanyakan apakah startup Indonesia hanya empat yang sudah memiliki status unicorn. Pasalnya, ia mengatakan tidak semua perusahaan terbuka untuk mengumumkan jumlah yang dikumpulkan.
"Tidak semua itu terbuka untuk investment siapa saja dan tidak semua dibuka di media. Apakah benar unicorn-nya cuman empat? Saya kok enggak yakin. Mungkin saja sudah lebih," tutur Kusumo.
Kendati demikian Kusumo menampik ketika ditanya apakah Blibli secara diam-diam sudah berstatus unicorn. Ia mengatakan pihaknya tidak memedulikan status unicorn tersebut, yang penting adalah keberlangsungan bisnis jangka panjang.
"Buat kita adalah nomor satu keberlangsungan jangka panjang. Mau statusnya apa pun buat kita tidak masalah," kata Kusumo.
[Gambas:Video CNN] (jnp/age)