Peneliti Ingatkan Ancaman Nyata Kepunahan Rafflesia

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 14:14 WIB
Peneliti Ingatkan Ancaman Nyata Kepunahan Rafflesia Bibit Rafflesia jenis Patma yang ditanam di Kebun Raya Bogor. (Foto: CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ancaman kepunahan bunga Rafflesia dianggap peneliti merupakan hal yang sangat nyata. Hal tersebut disebabkan oleh aktifitas manusia dan masih minimnya pengetahuan tentang kehidupan Rafflesia. 

Peneliti Rafflesia, Sofi Mursidawati menjelaskan adanya peran manusia dalam memusnahkan bunga temuan Thomas Stamford. 

Di antara lain adalah semakin minimnya habitat Rafflesia akibat ekspoloitas manusia. Serta penggunaan Rafflesia sebagai bahan obat-obatan, meski belum teruji secara ilmiah.


"Agak riskan kalau pemakaian Rafflesia jadi obat-obatan dilegalkan. Kami harus cari manfaat yang ada pada Rafflesia tapi memang butuhkan waktu dan tenaga," kata Sofi di kantor Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor, Senin (25/2).

Terlebih menurutnya hingga kini peneliti Rafflesia di Indonesia jumlahnya masih sedikit dan menjadi tantangan besar bagi pelaku konservasi.

Padahal semua jenis bunga Rafflesia merupakan jenis flora yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi. 

Sofi mengatakan sejak 2010, di Kebun Raya Bogor pihaknya sudah memekarkan 13 bunga Rafflesia secara eksitu atau menumbuhkan di luar habitat aslinya.

Ancaman Kepunahan Rafflesia di Depan MataBibit Rafflesia di Kebun Raya Bogor. (Foto: CNN Indonesia/Jonathan Patrick)

Kendati demikian, hingga saat ini pihaknya belum pernah bisa mengawinkan Rafflesia jantan dan betina. Pasalnya jantan dan betina sangat jarang bisa mekar bersamaan. Padahal waktu mekar hanya dalam kisaran lima sampai tujuh hari. 

"Jadi satu satu tumbuhnya, belum buat Rafflesia berbuah dalam kondisi eksitu jadi masih di luar habitat . Keberhasilan itu belum 100 persen setiap berbunga dia kesepian," ujar Sofi. 

Secara biologis, tumbuhan hidup secara parasit pada tumbuhan liana sebagai inangnya. Rafflesia tidak mampu berfotosintesis karena tidak memiliki daun. Rafflesia juga tidak memiliki akar dan tangkai batang. 

Oleh karena itu, ketika inangnya mati maka Rafflesia juga ikut mati. Kebergantungan Rafflesia pada habitatnya menjadi faktor utama kelangkaan bunga ini.

"Sulit karena secara biologis ia bergantung pada tumbuhan lain. Jadi dia parasit. Tumbuhan lain itu liana. Liana sendiri bergantung pada ekosistem alaminya. Jadi sulit lakukan manipulasi oleh manusia," ucapnya.

Sofi menjelaskan saat ini ada 30 jenis Rafflesia di seluruh dunia, 13 diantaranya merupakan spesies asli Indonesia.

Beberapa jenis bunga Rafflesia yang tumbuh di Indonesia adalah Rafflesia arnoldii (Sumatera Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. cilliata (kalimantan Timur), R. horsfilldii (jawa), R. patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatera bagian Timur). 

"Pusat habitat Rafflesia berada di Sumatera masing-masing dengan titik sebaran yang sangat sempit dengan jumlah populasi yang tidak banyak," jelasnya. (jnp/evn)


ARTIKEL TERKAIT