"Jumlah outlet di Indonesia berdasarkan data operator, ada 300 ribu-an outlet. Angka minimal kartu perdana yang mati tidak terjual anggap sekitar 50 buah dikali 300 ribu outlet, dikali harga rata-rata kartu perdana Rp35 ribu," jelas Azni kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/2).
Mengacu pada ketiga faktor tersebut, para pedagang pulsa seharusnya mengalami kerugian sekitar Rp525 miliar. Kerugian tersebut dialami para pedagang pulsa saat kartu perdana mereka hangus pada tanggal 21 Februari sampai 23 Februari 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara jika kartu perdana dicoba mendaftarkan menggunakan NIK dan nomor KK, sinyal tetap tidak muncul di ponsel.
"Kalau periode itu yang keadaan terblokir itu tiba-tiba hilang sinyalnya sama sekali. Yang kami anggap hangus. Itu saya tidak saya kenapa bisa hangus," kata Azni.
Lihat juga:Mengenal Apa Itu IMEI |
"Kerugian dan kehancuran usaha kami sebagai akibat peraturan yang bapak-bapak Komisioner BRTI buat bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika sepertinya tidak menjadi perhatian... Kalaulah Anda semua tidak mampu membuat kebijakan dan peraturan yang menguntungkan semua pihak, maka seharusnya Adna jangan membuat peraturan yang menghancurkan (walaupun hanya satu pihak)," tulis Azni dalam surat tersebut. (jnp/evn)