Kena Imbas Rugi, Laba Perusahaan Pemasok Apple Ikut Turun

CNN Indonesia | Selasa, 26/02/2019 22:11 WIB
Kena Imbas Rugi, Laba Perusahaan Pemasok Apple Ikut Turun Ilustrasi perakitan ponsel. (Dok. Xiaomi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saham dari salah satu perusahaan pemasok perangkat akustik yang digunakan oleh Apple, AAC Technologies Holdings Inc turun 13 persen. Turunnya saham ini terjadi setelah perusahaan memperkirakan keuntungan mereka turun 75 persen pada kuartal pertama ini. Penurunan ini terjadi karena berkurangnya permintaan produksi.

Perusahaan yang terdaftar di bursa Hong Kong itu meramalkan keuntungan mereka pada Januari- Maret turun 65 hingga 75 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Selain itu, mereka juga menyebut pengurangan marjin laba kotor.

"Selain kuartal musiman yang biasanya lemah, pendapatan perusahaan untuk Q1 2019 diperkirakan akan terpengaruh secara negatif oleh berkurangnya pesanan dari pelanggan," kata AAC dalam arsip bursa saham, seperti dikutip Reuters.


Rencananya perusahaan ini akan mengumumkan pendapatan kuartal pertamanya pada akhir Mei. Menurut AAC, keuntungan akan naik dari peningkatan portofolio produk, efisiensi produksi, dan pengendalian biaya. Perusahaan ini juga berharap para pelanggan untuk meningkatkan tawaran smartphone mereka.


Pengumuman ini dilakukan setelah perusahaan saingan AAC, Luxshare Precision Industry Co Ltd mengumumkan bahwa keuntungan mereka pada 2018 naik 61 persen.

Bulan lalu, analis Jefferies Rex Wu dalam catatannya menyebut sebenarnya pendapatan Luxshare diperkirakan akan negatif ketimbang pesaing-pesaingnya, termasuk AAC. Namun, pendapatan kuartal empat Luxshare sepertinya didorong karena Apple memberikan proyek custom untuk iPhone kepada perusahaan itu.

Harga saham AAC turun 13 persen menjadi 50,85 dolar Hongkong (Rp90.618; kurs Rp1.782), dibandingkan dengan penurunan 0,69 persen untuk indeks acuan Hang Seng. Saham tersebut adalah yang keempat paling aktif diperdagangkan pada awal perdagangan. Pada penutupan sebelumnya, saham AAC naik 29 persen sepanjang tahun ini. (Reuters/eks)