Fenomena paling bisa dirasakan ketika Toyota dan Daihatsu meluncurkan duo kembar Avanza-Xenia generasi baru tanpa kenaikan harga, bahkan sejumlah dealer resmi disebut memangkas harga model barunya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebagai asosiasi-asosiasi industri otomotif roda empat atau lebih memilih tidak ingin menanggapi kondisi di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga adalah kebijakan perusahaan masing-masing. Anda mau kasih diskon 50 persen silakan, kasih 90 persen silakan," kata Nangoi di Jakarta, Selasa (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ini hak masing-masing perusahaan. Kami juga tidak boleh melakukan kesepakatan mau itu menaikkan atau menurunkan. Tidak boleh sama sekali. Jadi mohon maaf soal satu ini sangat sensitif," ucap Nangoi.
Dijelaskan Nangoi, Gaikindo tidak menutup mata permasalahan di lapangan setelah ada 'perang harga'. Tapi, ia berpendapat hal tersebut terjadi pada semua lini industri tidak melulu otomotif.
"Masuk mall, diskon semua, di mobil juga begitu. Pameran-pameran ada diskon biasa. Tapi kami tidak akan mengatur. Gaikindo bersih mengenai masalah penentuan harga. Mohon dicatat agar ketua KPPU dengar dan dia bilang Gaikindo anak manis dan tidak macam-macam," kata Nangoi.
"Kalau peminat banyak, pasti harga bisa naik. Saya kasih contoh kenapa rumah di remote area bisa lebih murah dibandingkan di Menteng. Karena Menteng banyak yang mau, begitu juga kendaraan jadi harga itu benar-benar mekanisme pasar kami tidak terlibat sama sekali," tutup Nangoi. (ryh/mik)