Koleksi berikutnya dilakukan oleh Eric N. Smith dari University of Texas Arlington, AS dalam ekspedisi bersama di Sumatera antara tahun 2013-2015.
Pemilihan nama Gadjah Mada didedikasikan untuk Mahapatih Gadjah Mada yang menyatukan Nusantara di era kerajaan Majapahit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penemuan katak jenis baru ini berawal dari ditemukannya katak yang menyerupai Microhyla achatina di Lampung dan Bengkulu. Padahal catatan sebelumnya mengungkapkan jenis ini hanya ditemukan di Jawa dan Bali.
Dilihat dari bentuk fisiknya, dibandingkan jenis achatina katak Gadjah Mada memiliki ciri khas ukuran kecil dengan ukuran panjang tubuh dewasa kurang dari 3 cm.
Ciri khas lainnya yakni letak lubang hidung yang cenderung di tengah antara mata dan ujung moncong. Disamping itu, katak ini juga memiliki ciri pola garis hitam yang samar dan pendek pada bagian temporal.
Di tahun 2011, publikasi Masafumi Matsui dari Kyoto University, Jepang dan tim yang mengindikasikan perbedaan jenis Microhyla achatina yang berasal dari Jawa dan temuan dari Sumatera berdasarkan karakter molekularnya.
Hasil temuan katak 'Gadjah Mada' ini dipublikasikan dalam jurnal Treubia vol. 45, Desember 2018. Saat ini koleksi referensi jenis baru katak Microhyla gadjahmadai disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense, Jawa Barat. (evn)