Sebelumnya, YY masuk sebagai salah satu investor Bigo ada Juli lalu dengan menyuntikkan dana seri D sebesar US$272 juta.
Suntikan dana tersebut menjadikan YY sebagai pemegang saham terbesar Bigo yakni sebesar 31,7 persen. Kini YY telah membeli sisa 68,3 persen saham Bigo senilai US$1,45 miliar (Rp20,5 triliun), seperti dikutip Deal Street Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:LinkedIn Bikin Fitur Mirip Bigo Live |
Pada kuartal empat 2018, YY berhasil membukukan pendapatan bersih US$675 juta (sekitar Rp9,5 triliun) dan mendulang keuntungan bersih sekitar US$100 juta (sekitar Rp1,4 triliun).
Pembelian Bigo ini akan menjadi pendorong besar bagi ambisi ekspansi YY ke ranah internasional. Di negara asalnya, 'kue' live streaming hanya terbagi antara YY, Huya, dan Douya. Huya dan Douyu dibekingi oleh Tencent, perusahaan yang dikenal dengan layanan pesan instan WeChat dan publisher game terbesar China.
"Kami sangat gembira mengumumkan akuisisi bigo. Ini adalaH langkah penting bagi grup YY yang emnunjukkan komitmen pada strategi global," jelas Li dalam pernyataannya, seperti dikutip TechCrunch, Selasa (5/5).
Pasar utama Bigo memang ada di Asia Tenggara, tapi aplikasi ini juga tersedia di 100 negara. Bigo juga menjadi aplikasi terpopuler di negara seperti Vietnam, Kamboja, Paraguay, Yaman, Angola, seperti tercantum pada data layanan pelacak aplikasi App Annie.
Li memperkirakan pada 2017 Bigo menghasilkan pendapatan tahunan hingga US$300 juta. Bigo juga menyeit telah memiliki 200 juta pengguna dengan pengguna aktif bulanan di angka 37 juta di seluruh dunia.
Di Indonesia, Bigo sempat ditempa masalah konten negatif di platform-nya. Perusahaan asal Singapura ini kemudia mencoba menyelesaikan masalah dengan mengembangkan kecerdasan buatan dan tim konten untuk menyaring keluhan konten negatif. (eks/evn)