Bigo Live Dibeli Perusahaan Live Streaming Terbesar China

CNN Indonesia | Selasa, 05/03/2019 15:40 WIB
Bigo Live Dibeli Perusahaan Live Streaming Terbesar China Ilustrasi. (Foto: play.google.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Induk perusahaan Bigo Live kini dimiliki oleh perusahaan live streaming terbesar China, YY. YY mengumumkan telah membeli seluruh saham Bigo Live, perusahaan layanan video streaming asal Singapura, Senin (4/5). 

Sebelumnya, YY masuk sebagai salah satu investor Bigo ada Juli lalu dengan menyuntikkan dana seri D sebesar US$272 juta.

Suntikan dana tersebut menjadikan YY sebagai pemegang saham terbesar Bigo yakni sebesar 31,7 persen. Kini YY telah membeli sisa 68,3 persen saham Bigo senilai US$1,45 miliar (Rp20,5 triliun), seperti dikutip Deal Street Asia.


YY merupakan perusahaan live streaming terbesar di China. Hubungan antara kedua perusahaan sudah sangat dalam.

Li Xueling, mantan wartawan di China yang juga dikenal dengan nama David Li adalah salah satu inisiator Bigo. Ia sengaja membuat Bigo di Singapura untuk mengetes apakah layanan video streaming ala China itu cocok untuk pasar di luar negaranya.

Saat itu Bigo dibuat mengikuti model bisnis YY. Platform ini mendapat persenan ketika pengguna membelikan hadiah bagi para artis yang mereka suka dengan hadiah virtual. Hadiah ini pun bisa diuangkan oleh para artis itu. 


Pada kuartal empat 2018, YY berhasil membukukan pendapatan bersih US$675 juta (sekitar Rp9,5 triliun) dan mendulang keuntungan bersih sekitar US$100 juta (sekitar Rp1,4 triliun). 

Pembelian Bigo ini akan menjadi pendorong besar bagi ambisi ekspansi YY ke ranah internasional. Di negara asalnya, 'kue' live streaming hanya terbagi antara YY, Huya, dan Douya. Huya dan Douyu dibekingi oleh Tencent, perusahaan yang dikenal dengan layanan pesan instan WeChat dan publisher game terbesar China.

Menurut catatan Nasdaq, YY memiliki pengguna aktif bulanan sebanyak 90,4 juta pada Q4 2018. Diikuit Huya enggan 50,7 juta pengguna berdasarkan data IPO di AS, disusul Douya dengan 43 juta mengutip data perusahaan analisa data QuestMobile.

"Kami sangat gembira mengumumkan akuisisi bigo. Ini adalaH langkah penting bagi grup YY yang emnunjukkan komitmen pada strategi global," jelas Li dalam pernyataannya, seperti dikutip TechCrunch, Selasa (5/5).

Pasar utama Bigo memang ada di Asia Tenggara, tapi aplikasi ini juga tersedia di 100 negara. Bigo juga menjadi aplikasi terpopuler di negara seperti Vietnam, Kamboja, Paraguay, Yaman, Angola, seperti tercantum pada data layanan pelacak aplikasi App Annie. 

India juga menjadi pasar kunci karena 11 juta pengguna ada di negaa itu dan menguasai 32 persen dari total pengguna Bigo. Angka ini berdasarkan data unduhan di Google Play antara Januari dan Februari seperti diungkap SensorTower.

Li memperkirakan pada 2017 Bigo menghasilkan pendapatan tahunan hingga US$300 juta. Bigo juga menyeit telah memiliki 200 juta pengguna dengan pengguna aktif bulanan di angka 37 juta di seluruh dunia. 

Di Indonesia, Bigo sempat ditempa masalah konten negatif di platform-nya. Perusahaan asal Singapura ini kemudia mencoba menyelesaikan masalah dengan mengembangkan kecerdasan buatan dan tim konten untuk menyaring keluhan konten negatif. (eks/evn)