Bunga Bangkai Kembali Mekar di Kebun Raya Cibodas

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 11:43 WIB
Bunga Bangkai Kembali Mekar di Kebun Raya Cibodas Ilustrasi bunga bangkai Amorphophallus titanum. (Foto: Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bunga bangkai Amorphophallus titanum Becc kembali mekar di Kebun Raya Cibodas pada Snein (4/3) dini hari. Bunga yang mekar merupakan salah satu dari 11 spesimen bunga bangkai yang dikoleksi Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas.

Kuncup bunga pertama muncul pada akhir Januari lalu. Pantauan terakhir menunjukkan tinggi bunga telah mencapai 281 cm dengan lebar spata mencapai 124,4 centimeter.

Peneliti bunga bangkai di balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas, Destri mengatakan jika sepuluh individu bunga bangkai berasal dari biji pohon induk. Sementara satu individu diperoleh dari hasil eksplorasi di Sungai Manau, Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat, Sumatera Barat.


Menurut Destri, bunga bangkai membutuhkan waktu relatif lama untuk satu kali pembungaan. Setidaknya butuh waktu hingga empat tahun untuk sekali pembungaan.

Dalam sekali pembungaan, bunga bangkai melewati tiga fase siklus hidup yang terdiri dari fase vegetatif atau daun, fase dorman (istirahat), dan fase generatif (berbunga).

"Amorphophallus titanum memerlukan penyerbukan silang untuk membentuk biji, karena saat masak bunga betina dan jantan tidak sama, sedangkan bunga betina dan bunga jantan masak atau siap melakukan penyerbukan hanya dalam satu malam," jelas Destri dalam keterangan resmi.

Menurutnya, bunga bangkai jarang berbunga dan semakin jarang ditemukan di alam. "Jarangnya bunga ini menyebabkan kesempatan melakukan penyerbukan juga semakin kecil," imbuhnya.

Untuk itu, ia mengatakan demi menjaga kelestarian bunga bangkai maka proses pembibitan massal dan cepat butuh campur tangan manusia. Misalnya pada proses kultur jaringan dan diikuti reintroduksi di alam.

Berdasarkan klasifikasi International Union for Conservation of Nature (IUCN), Amorphophallus titanum masuk dalam kategori tumbuhan langka dan keberadaannya dilindungi Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. (evn)