Australia yang kini tidak punya industri otomotif namun menjual 1,2 juta mobil pada 2018 merupakan sasaran empuk bagi pelbagai produsen otomotif global. Sebagian sudah dipahami memiliki hasrat menyuplai kendaraan ke Australia melalui Indonesia, hal itu pun dibenarkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Menurut Kemenperin para investor otomotif berniat menanam dana segar lantaran berpedoman pada IA-CEPA. Salah satu isi di dalam perjanjian yakni kendaraan hybrid dan listrik produksi Indonesia bisa diekspor dengan tarif bea masuk 0 persen ke Australia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kandungan Lokal Wuling Almaz Baru 40 Persen |
Dian menjelaskan Wuling akan melakukan observasi lebih dalam untuk menentukan produk lokal yang tepat dan memilih negara tujuan ekspor yang tepat pula.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wuling Pilih Fokus pada Purna Jual
Wuling, menurut Dian, belum genap dua tahun terjun di pasar otomotif nasional, jadi usianya disebut masih terlalu dini. Hingga tahun ketiga berbisnis di Tanah Air, dia mengatakan fokus yang dipilih mengembangkan layanan purna jual.
"Jadi memang di tahun satu, dua, dan tiga itu fokus kami peningkatan jaringan dan layanan aftersales," kata Dian.
Wuling kini memiliki empat model yang siap bersaing di pasar domestik, yaitu Confero, Cortez, Formo, dan terbaru Almaz.
Sepanjang karier, Wuling sudah menjual 22 ribuan unit kendaraan dengan pencapaian terbanyak pada 2018 sebesar 17.002 unit. Hasil tersebut sekaligus membawa Wuling menjadi produsen terlaris nomor sembilan di Indonesia. (ryh/fea)