Penyusun berita oleh bot atau yang lebih dikenal dengan 'Tobi' telah dikenal selama hampir satu dekade. Tobi berfungsi untuk menghasilkan cerita, mempersonalisasikan pengiriman berita serta menyaring data untuk menemukan berita penting.
"Kami telah melihat penerimaan yang cukup besar dari potensi teknologi kecerdasan buatan ini atau robo-jurnalisme pada newsroom di seluruh dunia," ujar seorang profesor Universitas Oregon, Damian Radcliffe dikutip dari AFP, Minggu (10/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Inisiatif Strategis The Washington Post, Jeremy Gilbert Gilbert mengatakan bot dapat menyampaikan dan memperbaharui berita lebih cepat serta memungkinkan wartawan untuk berkonsentrasi pada tugas lainnya.
Meskipun jurnalis dan robot nampaknya saling membantu, muncul kekhawatiran terkait kecerdasan buatan ini yang dapat merugikan pekerjaan jurnalis.
Di satu sisi, pada Februari lalu, sejumlah peneliti OpenAI AS merilis laporan bahwa program penghasil teks berita dapat digunakan untuk menghasilkan artikel berita palsu, menyamar sebagai orang lain dan dapat membuat konten palsu di media sosial. (din/mik)